Perjalanan menuju G. Merbabu Salah satu jalur menuju G. Merbabu adalah via wekas. Kami berempat memulai perjalanan H+2 setelah idul fitri 2008. Kami berkumpul di salah satu rumah teman kami yang bernama Bodong tepatnya pada hari jum’at pukul 15.00 WIB. Kami menyiapkan semua peralatan dan juga bekal makanan. Kami memulai perjalanan dari kota Tangerang tepatnya pom bensin sebelum terminal poris plawad pada pukul 16.30 WIB. Dan tiba di stasiun senen pada pukul 18.30. Kami membeli tiket seharga Rp. 42.000/Orang kereta berangkat pada pukul 11.00 karena kereta yang kami tumpangi adalah kereta bantuan, ya jadi maklum kalau berangkat aga maleman. Kami turun di kutuarjo sekitar pukul 08.15 dan kami langsung melanjutkan perjalanan menuju terminal tidar magelang tapi sebelum ke magelang kami harus transit di terminal lama kutuarjo dengan harga bus Rp 4.000 dan menyambung bus dengan tujuan magelang tidar yang ongkosnya sekitar Rp. 11.000. Kami tiba di terminal tidar sekitar pukul 11.00 dan kami beristirahat sejenak untuk mengisi perut kami yang sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Saya lupa jam berapa kami melanjutkan perjalanan tapi saya ingat kami tiba di wekas sekitar pukul 13.00 dengan ongkos Rp. 4.000 dan kami langsung mencari mushola untuk menunaikan kewajiban kami. Sekitar pukul 13.30 kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju basecamp dan saya ingat sekali kami tiba di basecamp yaitu rumah seorang penduduk yang kami sebut bude pada pukul 15.00. kami beristirahat sejenak melepas lelah dan melanjutkan perjalanan hingga pos 1 karena di pos 1 lah air terakhir yang dapat kami jumpai hingga puncak bahkan sampai turun kembali bila kita turun melalui jalur selo. Pada malam harinya kami terkena badai dan jelas kami tidak dapat tidur dengan nyenyak karena kami harus menahan dari dalam sebab tenda tergoyang-goyang dihempas angin dan hujan hingga salah satu patok lepas dan tentu kawan kami yang pemberani itu karena tepaksa juga sih, keluar dari sarang dan memasangnya kembali. Ok salut deh buat bodong. Pada pagi harinya sekitar pukul 09.00 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak kenteng songo, sialnya kami berempat salah mengambil jalur dan akhirnya tesesat, saya berteriak hingga ada beberapa orang yang menjawab teriakan kami karena pada saat itu posisi kami berada diatas dari jalur sebenarnya dan kami langsung menerobos pepehonan dan rerumputan yang lebat dengan bantuan teman-teman PA lainnya yang memberikan komando dari bawah sana, karena kami tidak dapat melihat mereka dengan jelas. Kami hanya mendengar suaranya saja yang akhirnya terlihat samara-samar baju mereka hingga kami berada pada jalur yang sebenarnya. Saya lupa pukul berapa kami tiba di puncak kenteng songo yang memiliki ketinggian 3142 MDPL. Kami tidak mendirikan tenda di puncak karena kami berfikir cuaca sedang tidak bersahabat. Kami aga turun sedikit untuk mencari tempat yang lebih aman. Kami turun melalui jalur selo dan pada saat menjelang magrib ada salah satu orang yang meminta bantuan untuk evakuasi karena salah satu dari mereka ada yang tidak sadarkan diri entah itu kesurupan atau yang lainnya. Saya pergi membantu mereka dan setelah sampai setengah perjalanan menuju camp dengan membawa korban, si bodong baru nyampe tapi ngga apa-apa yang penting ada tenaga baru. Karena jalur yang kami lewati sangat curam dan miring, waktu yang kami butuhkan untuk evakasi sekita 1 ½ jam. Si bodong bawel tapi bawelnya bermanfaat dia yang nyuruh ini itu dan yang lainnyapun mengikuti intruksinya. Pada pagi harinya kami turun menuju selo dan seperti biasa saya lupa jam berapa kami tiba di selo. Dan uniknya kami malah ikut rombongan yang kemarin kami Bantu untuk evakuasi dan mereka berasal dari Bekasi kami pulang melalui stasiun jebres Solo. Sungguh pengalaman yang tak mudah untuk dilupakan. | |||||||||||
| |||||||||||
